Rabu, 15 Oktober 2008

Sarang Walet

Setelah lama nggak posting, ini saya posting satu lagi peluang bisnis yang saya sampai kelupaan. Bapak saya menekuni bisnis sarang walet walaupun masih lokalan di daerah Jogja dan Jateng, mungkin ada pembaca yang juga menekuni bisnis yang sama bisa untuk saling bertukar informasi dan kerjasama.
Kebetulan dirumah ada contoh sarang yang saya foto pake HP seperti berikut :

Jumat, 19 September 2008

Plester Gypsum / Textile Gypsum



Hari ini saya dapet kiriman dari temen di Jakarta, sebuah paket sample Plester gypsum. Kegunaan Plester ini adalah untuk menutup sela atau nat antar gypsum pada plafon rumah sehingga tidak ada celah pada plafon, dengan spesifikasi lebar lk 2,5 cm dan panjang lk 50 cm dengan harga Rp. 5.900. Temen saya tersebut menantang saya untuk menjual di Jogja, karena pasar tersebut relatif terbatas dan hanya tukang gypsum atau toko besi aja yang butuh.
Moga saya bisa menjawab tantangan tersebut, Insya Allah saya "BISA" kalo orang jualan racun tikus aja bisa masak saya nggak bisa sih.... bulan depan saya bisa jual 500 rol sebagai permulaan, Insya Allah.

Rabu, 17 September 2008

Kaos anak bergambar tradisional

Satu lagi kaos bikinan dari Jogja yang cukup unik untuk dimiliki dan dipakai oleh anak anak, agar tetap tahu tradisi dan mainan pada masa sebelumnya. Kaos bikinan "Megatruh" ini mengusung gambar yang berbau tradisional, ada anak "ngguyang" (mandiin) kerbau/sapi, lompat tali (yeye), gasing dan masih banyak lagi.
Kaos ini dibuat dari katun yang cukup tebal dengan harga yang relatif murah, cuman 35.000 rupiah per potong, terdiri dari ukuran M (3-4th), L (4-5 th), XL(5-6 th).
Kalo ada yang mo pesen bisa hubungi saya deh, ntar saya kirim.





Sabtu, 13 September 2008

Belajar dari penjual racun tikus

Sebagai karyawan (comfort zone) kadang saya merasa sulit ketika akan belajar untuk memulai usaha, ketika mau jadi reseller selimut jepang dan ngobrol dengan temen2 sesama karyawan, bukan dukungan yang didapat tetapi malah pertanyaan yang membikin semakin ragu untuk “take action”. Pertanyaannya adalah “ yang mo beli siapa? “ karena semua orang pasti sudah punya dan selimut bukan merupakan kebutuhan pokok yang dibeli setiap setahun atau dua tahun sekali. Dengan adanya pertanyaan seperti itu kadang selalu membikin kita ragu untuk memulai usaha, apapun bentuknya (apalagi bagi karyawan seperti saya).

Tetapi ada satu pelajaran sepele yang bisa saya ambil dari seorang penjual racun tikus. Setiap pulang kerja setiap hari saya selalu melihat seorang anak muda yang jualan racun tikus diatas sepeda motornya. Dengan kisaran harga 12 ribuan mungkin satu biji bisa untung 3-4 ribu. Saya yakin penjual tersebut tidak peduli dengan pertanyaan seperti temen saya “siapa yang mo beli racun tikus?”
Memang ada tikus yang mau bunuh diri ? Tidak semua orang butuh racun tikus, bahkan saya yakin banyak diantara kita yang bahkan belum pernah mendengar atau lihat wujudnya. So, sapa yang mo beli racun tikus ? tuh kan pertanyaannya sama.

Tapi pelajaran yang bisa saya ambil adalah penjual tersebut “take action” dulu nggak usah dipelajari masalah strategy, demand dan lain-lainnya. Dan nyatanya udah berbulan-bulan dia masih “survive” dan tetap jualan di tempat tersebut, berarti dengan jualan racun tikus tersebut yang kayaknya nggak ada konsumen sama sekali dia bisa membuktikan bahwa “take action miracle happen” walaupun “just little miracle”.

Lalu apalagi yang menjadi hambatan kita untuk memulai usaha ? Ayo segeralah mulai berusaha dan tunggu keajaiban yang akan (pasti) menghampiri kita .

Senin, 08 September 2008

Wasiat Untuk Umat Muslim

Postingan telah dihapus karena ada pencerahan "Ahma Lutfi" Tengkyu

Senin, 25 Agustus 2008

Strategi Pemasaran Bakpia Pathuk

Bakpia Pathuk adalah salah satu alternatif oleh-oleh yang khas dari Jogja (selain gudeg dan kenangannya lho) Kalo Bapak Ibu yang dari luar jogja pernah jalan-jalan ke Malioboro ataupun ke Pasar Beringharjo atau ke Kraton pasti pernah ditawari oleh abang becak atau andong dengan kalimat "Bakphia Pathuk ongkosnya seribu" padahal kalo ongkos normal paling tidak seharga duaribu limaratus.
Mengapa para tukang becak dan tukang andong mau mengantar cuman dengan beaya 1000 rupiah ? Rahasianya ternyata karena mereka secara langsung ataupun tidak langsung telah menjadi garda depan dalam penjualan Bakpia Pathuk (khususnya Bakpia Pathuk 25).
Dalam persaingan penjualan Bakpia Pathuk yang begitu ketat (sepanjang jalan KS Tubun kurang lebih 800 m hampir semua jualan Bakpia)ada sebuah merek Bakpia yaitu Bakpia 25 yang bertempat di Pasar Pathuk yang punya strategi pemasaran yang cukup jitu. Setiap ada kendaraan umum yang mengantar penumpang (becak, andong, taksi atau bis) untuk belanja Bakpia 25 akan diberikan komisi sebesar kurang lebih 2000 rupiah per dus isi 20 biji. Jadi kalo penumpangnya belanja 5 dus maka bonusnya paling tidak 10 ribu rupiah, lumayan kan ? Makanya mereka berani menekan ongkos becaknya cuman seribu rupiah. Dan hal tersebut telah menjadi rahasia umum para abang-abang becak sehingga kalo ada pembeli yang minta diantar untuk beli Bakpia pasti mereka akan langsung mengantar ke Bakpia Pathuk 25. Win-win Situation yah ?

Sabtu, 23 Agustus 2008

Beli rumah tanpa keluar uang ??!!

Saya yakin kita sering melihat, membaca atau mendengar kalimat seperti pada judul diatas, atau ada yang belum pernah mendengar sama sekali ? Kalimat itu sering di kemukakan oleh para investor ataupun motivator seperti Robert Kiyosaki ataupun James kalo di Indonesia yang telah berhasil membeli properti seharga milyaran tanpa keluar uang malah dapat cashback.
Saya juga sangat yakin banyak yang membantah atau bahkan mencibir hal tersebut, karena dianggap sesuatu yang mustahil. Tapi bagi yang mau belajar ternyata sesuatu yang kelihatan nya mustahil akan menjadi sesuatu yang wajar apabila kita tahu rahasianya. Dan rahasia tersebut telah dibahas secara cukup detail oleh Pak Budi Rahmat. Mereka telah berhasil untuk membeli rumah tanpa keluar uang dengan nilai ratusan juta ataupun milyaran yang masih sulit diterima akal sehat dan normal (maaf bukan berarti yang bisa menerima itu tidak sehat dan tidak normal lho).
Saya ingin memberikan sebuah contoh sederhana yang telah saya praktekkan.
Ketika saya pingin punya rumah tapi tabungan nggak mencukupi, maka pilihan yang paling mungkin adalah utang di bank. Agar rumah yang akan dibangun tidak menjadi liabiliti maka harus ada rencana cerdas untuk mengantisipasinya. Pilihannya adalah rumah sekaligus tempat usaha. Saya kemudian mengajukan utang senilai 35 juta dengan lama kredit 8 tahun dengan angsuran 730 ribu perbulan (alhamdulillah saya PNS jadi lebih mudah untuk nyari utang). Dengan prinsip "asal rumah bisa ditempati" dengan dana tersebut dan tambahan dari sedikit tabungan maka jadilah rumah seperti ini

Agar rumah tersebut berubah menjadi asset maka dari awal sudah saya konsep sebuah warung untuk jualan. Dan alhamdulillah dari warung tersebut saat ini telah memberikan income yang lebih dari cukup untuk membayar angsuran ke bank sebesar 730 ribu rupiah per bulan. Artinya saya bikin rumah dengan bantuan pinjaman dari bank dan konsumen yang membayar cicilannya bahkan saya masih dapat sisa uang lebih. Cukup sederhana kan ? Dan saya yakin konsep semacam itu yang diterapkan oleh orang-orang yang percaya dengan "beli rumah tanpa keluar duit" hanya dalam skala dan volume yang berbeda2 tergantung kemampuan masing-masing, ada yang ribuan, jutaan, bahkan milyaran.